by Y.S. Aji Soedarsono
25 December 2008
Pada dasarnya Anak-anak dan Remaja bebas untuk punya cita-cita apapun. Yang dimaksud dengan APAPUN adalah segala macam pekerjaan atau profesi yang POSITIF. Seorang anak atau remaja dapat saja punya cita-cita menjadi PENYANYI. Lalu, apakah untuk menjadi penyanyi dia harus belajar ilmu Calculus yang lumayan rumit? Jika anak lain ingin menjadi COOK lalu nantinya menjadi CHEF lalu nantinya lagi ingin punya resto sendiri, apakah dia harus masuk SMU? Jika anak yang lain lagi ingin menjadi atlet bulutangkis atau sepakbola, yang latihannya harus ekstra berat dan ekstra waktu, apakah dia harus masuk sekolah "normal" yang masuk jam 6.30 dan pulang jam 15.00?
Oleh karena cita-cita sangat beragam, bagaimana dengan sekolah anak-anak dan remaja ini?
Sekarang ini ada sangat banyak ragam sekolah. Untuk tingkat SLTA, ada SMU dan ada SMK. Berdasarkan informasi terkini, jumlah SMK akan ditingkatkan, menjadi lebih banyak dari jumlah SMU. Menurut para ahli pendidikan yang melakukan survei, siswa lulusan SMK lebih banyak yang dapat kerja langsung setelah lulus. Persentasenya mencapai 85 persen. Sebaliknya, lulusan SMU, jika yang tidak akan kuliah, maka peluangnya hanya 15 persen untuk dapat kerja setelah lulus SLTA.
Untuk menjadi COOK atau CHEF (nantinya), saya anjurkan masuk ke SMK yang ada jurusan Tata Boga-nya. Setelah lulus, dapat langsung kerja atau meneruskan ke akademi selama 3 tahun untuk jurusan yang sama.
Bagaimana dengan calon Penyanyi dan calon Atlet?
Seorang calon ATLET yang dituntut untuk dapat berlatih minimal 4 jam sehari, mungkin akan sangat kesulitan untuk dapat hidup dengan pola sekolah yang masuk pagi dan pulang sore (normal). Mereka ini membutuhkan fleksibelitas atau kelenturan dalam jadual belajar. Apalagi, zaman sekarang, seorang anak harus memelajari 16 hingga 18 pelajaran dalam satu semester! Apakah semuanya diperlukan oleh calon ATLET? Tentu saja tidak.
Demikian pula dengan Calon Penyanyi. Dia harus rajin berlatih vokal: pagi, siang, sore dan ditambah dengan latihan salah satu alat musik. Apakah mereka wajib ikut sekolah yang normal? Jika mampu dan mau, tentu saja boleh, tapi tidak wajib.
Sekarang, sudah ada sekolah alternatif yang dapat ditempuh oleh mereka yang sangat sibuk dengan jadual latihan (ini juga salah satu bentuk sekolah/pendidikan) apakah olahraga atau latihan vokal. Sekolah ini sering disebut dengan HOME SCHOOLING atau Sekolah Rumah, atau disingkat jadi HS. Di Indonesia, pelajaran yang disampaikan, diusahakan merujuk pada pelajaran Paket A untuk SD, Paket B untuk SMP dan Paket C untuk SLTA. Tentunya, mereka tidak perlu belajar 16 atau 18 pelajaran! Setelah lulus Paket C, mereka dapat diterima untuk kuliah di UGM, Jogja atau di universitas di luar negeri.
Tapi, bagaimanapun selalu saja ada kelemahan, sebagaimana kelemahan juga ada pada sekolah "normal." Ramai orang berkata bahwa anak-anak HSer akan menjadi orang yang tidak pandai bersosialisasi. Mungkin benar, mungkin tidak. Sebagaimana anak-anak sekolah "normal" dapat juga terkontaminasi karena menjadi remaja yang "sangat sosial."
Jadi, bagaimana baiknya?
Tentu, yang terbaik adalah yang paling sesuai dengan keunikan anak atau remaja yang menjalani. Orang dewasa hanya perlu membimbing untuk dapat membantu mereka menentukan cita-cita yang sangat mereka inginkan, lalu menunjukkan alternatif cara atau pendidikan yang paling tepat dan cocok bagi mereka untuk mencapai cita-cita itu. SETUJU?
Kamis, 25 Desember 2008
Minggu, 21 Desember 2008
REMAJA Punya Cita-cita Lebih Tanggung-jawab
by Y.S. Aji Soedarsono
21 Desember 2008
Pada kesempatan ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman. Yaitu bahwa dari beberapa klien remaja yang saya tangani, ternyata saya dapat mengambil kesimpulan bahwa Remaja yang punya cita-cita akan lebih bertanggung-jawab dalam bertindak. Para REMAJA yang saya maksud ini menjadi BERBEDA dengan Remaja kebanyakan.
Mengapa Remaja yang punya cita-cita menjadi lebih bertanggung-jawab?
Dalam hal apa saja mereka bertanggung-jawab?
Seorang klien remaja saya di Bandung, yang masih duduk di kelas 12, karena dia menyadari betapa tingginya mimpi atau dream yang dia canangkan, dan dia juga menyadari betapa orangtuanya tidak akan mampu membiayainya, telah menjadi remaja yang berbeda dari teman-temannya.
Di kelas 12, setelah pulang sekolah dia menyempatkan diri untuk mencari tambahan uang yang nantinya akan dipakai untuk Perguruan Tinggi. Dia menabung. Di samping itu, dia juga rajin mencari info tentang lembaga-lembaga yang menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang tidak mampu.
Seorang remaja lain yang duduk di kelas 9, yang punya cita-cita menjadi Pemain Bola, juga telah menjadi BERBEDA dengan rekan-rekannya yang lain. Dia sudah dapat menjawab dengan TEPAT, ketika ditanyai:"Umur 57 kamu jadi apa?"
Jawabannya:"Saya jadi Pelatih Bola!"
Dia juga telah paham, bahwa dia harus mengikuti berbagai kegiatan yang menunjang dirinya untuk menjadi pemain bola, namun dia pun tahu bahwa dia harus dapat menyelesaikan tugas-tugas belajarnya untuk lulus SMP, dan dia pun sudah mempunyai bayangan akan masuk ke SMU yang mana. Tentu dia mencari SMU yang paling menjanjikan untuk seorang Pemain Bola.
Contoh nyata yang lebih "ngetop" adalah seorang David Beckham yang berusia 11 tahun, telah sangat mengetahui apa yang dia inginkan. Dia ingin menjadi Pemain Sepakbola di Klub Manchester United. Dia pun berlatih sangat super giat sekali. Dia memenangkan trofi pemain anak berbakat di Inggris. Dia berlatih lebih giat daripada remaja lain di kelas kursus bola tengah tahun (summer course), ketika usia 16 tahun. Ketika teman-temannya telah beristirahat, dia masih berlatih setidaknya satu jam lagi. Ketika teman-temannya telah pulang kampung setelah masa kursus, dia masih tinggal beberapa hari lagi berlatih sendiri di MU camp.
Seorang remaja yang punya cita-cita yang jelas, akan berusaha mencari IDOLA yang jelas pula. Dia pun akan mencoba membuat jadual kegiatan sehari-hari yang paling menunjang tujuannya. Dia membuat Rencana Aksi yang akan dilaksanakannya. Dia pun akan melaksanakan rencananya itu dengan lebih bersungguh-sungguh.
Bagi para remaja ini, tidak ada istilah waktu luang yang akan dipakai untuk sekadar bersenang-senang saja. Pada dasarnya, para remaja yang punya cita-cita ini hanya akan senang jika Cita-citanya tercapai. Itulah yang dia tuju. Anda SETUJU?
21 Desember 2008
Pada kesempatan ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman. Yaitu bahwa dari beberapa klien remaja yang saya tangani, ternyata saya dapat mengambil kesimpulan bahwa Remaja yang punya cita-cita akan lebih bertanggung-jawab dalam bertindak. Para REMAJA yang saya maksud ini menjadi BERBEDA dengan Remaja kebanyakan.
Mengapa Remaja yang punya cita-cita menjadi lebih bertanggung-jawab?
Dalam hal apa saja mereka bertanggung-jawab?
Seorang klien remaja saya di Bandung, yang masih duduk di kelas 12, karena dia menyadari betapa tingginya mimpi atau dream yang dia canangkan, dan dia juga menyadari betapa orangtuanya tidak akan mampu membiayainya, telah menjadi remaja yang berbeda dari teman-temannya.
Di kelas 12, setelah pulang sekolah dia menyempatkan diri untuk mencari tambahan uang yang nantinya akan dipakai untuk Perguruan Tinggi. Dia menabung. Di samping itu, dia juga rajin mencari info tentang lembaga-lembaga yang menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang tidak mampu.
Seorang remaja lain yang duduk di kelas 9, yang punya cita-cita menjadi Pemain Bola, juga telah menjadi BERBEDA dengan rekan-rekannya yang lain. Dia sudah dapat menjawab dengan TEPAT, ketika ditanyai:"Umur 57 kamu jadi apa?"
Jawabannya:"Saya jadi Pelatih Bola!"
Dia juga telah paham, bahwa dia harus mengikuti berbagai kegiatan yang menunjang dirinya untuk menjadi pemain bola, namun dia pun tahu bahwa dia harus dapat menyelesaikan tugas-tugas belajarnya untuk lulus SMP, dan dia pun sudah mempunyai bayangan akan masuk ke SMU yang mana. Tentu dia mencari SMU yang paling menjanjikan untuk seorang Pemain Bola.
Contoh nyata yang lebih "ngetop" adalah seorang David Beckham yang berusia 11 tahun, telah sangat mengetahui apa yang dia inginkan. Dia ingin menjadi Pemain Sepakbola di Klub Manchester United. Dia pun berlatih sangat super giat sekali. Dia memenangkan trofi pemain anak berbakat di Inggris. Dia berlatih lebih giat daripada remaja lain di kelas kursus bola tengah tahun (summer course), ketika usia 16 tahun. Ketika teman-temannya telah beristirahat, dia masih berlatih setidaknya satu jam lagi. Ketika teman-temannya telah pulang kampung setelah masa kursus, dia masih tinggal beberapa hari lagi berlatih sendiri di MU camp.
Seorang remaja yang punya cita-cita yang jelas, akan berusaha mencari IDOLA yang jelas pula. Dia pun akan mencoba membuat jadual kegiatan sehari-hari yang paling menunjang tujuannya. Dia membuat Rencana Aksi yang akan dilaksanakannya. Dia pun akan melaksanakan rencananya itu dengan lebih bersungguh-sungguh.
Bagi para remaja ini, tidak ada istilah waktu luang yang akan dipakai untuk sekadar bersenang-senang saja. Pada dasarnya, para remaja yang punya cita-cita ini hanya akan senang jika Cita-citanya tercapai. Itulah yang dia tuju. Anda SETUJU?
Jumat, 05 Desember 2008
Cita-Cita, Orang Tua vs Remaja
by Y.S. Aji Soedarsono
5 December 2008
Dalam beberapa kasus yang harus saya hadapi, sesuatu yang sangat menonjol adalah adanya perbedaan yang lebar antara cita-cita para remaja dengan cita-cita yang dibuat oleh orang tua bagi anak-anak mereka. Ada kondisi di mana remaja mengalah demi berbakti kepada ortu mereka. Namun, ada kasus di mana si remaja berkeras untuk mencapai cita-citanya sendiri meskipun sangat ditentang oleh ortunya.
Sampai-sampai, si remaja membuat pernyataan, untuk membesarkan hatinya sendiri, kira-kira seperti ini:"Tetaplah pada cita-citamu walaupun orang tua kita tidak percaya bahwa kita dapat mencapai apa yang kita mau. Kita harus yakin bahwa kita bisa..."
Dalam kasus yang lain, si remaja dengan pasrah berkata:"Pak, khan kalau kita mengikuti apa yang dikatakan orang tua berarti kita berbakti kepada mereka..."
Yang PALING menarik, ternyata para remaja mengaku bahwa sangat mungkin orang tua mereka tidak mengetahui apa kelebihan atau kehebatan anak-anak mereka. Pada kasus pertama si remaja bahkan berkali-kali bertanya kepada saya:"Pak, kok bisa ya .. orang tua saya tidak tahu kelebihan dan kehebatan saya?"
Jadi, cita-cita yang disodorkan oleh ortu bagi anak-remaja mereka adalah sesuatu yang sangat IDEAL, bagi para orang tua, walaupun belum tentu IDEAL bagi remaja yang menjalaninya.
Bagaimana sebaiknya menjembatani kedua macam kasus seperti ini?
Apa pertimbangan orang tua dalam menyodorkan cita-cita?
Nyaris PASTI, para ortu menyodorkan sesuatu yang nantinya akan memberikan kesejahteraan bagi anak-anak mereka. Ada orang tua yang melihat bahwa menjadi PEGAWAI NEGERI akan menjadikan anak-anak mereka SEJAHTERA, dapat ASKES,dan dapat PENSIUN. Ada ortu yang memikirkan masalah BIAYA yang mahal kalau misalkan anaknya kuliah di Fakultas KEDOKTERAN. Ada orang tua yang bilang bahwa kalau anaknya masuk STAN, nanti "PASTI" sejahtera, dlsb.
Dalam masalah biaya, yang mengherankan, para ortu tidak terlalu mendorong anak-remaja mereka untuk BERJUANG mencari BEASISWA, dalam keadaan ortu yang "kurang mampu." Para ortu lebih condong dan lebih sering berkata:"JANGAN masuk ke situ, biayanya MAHAL!" Bukankah lebih POSITIF jika para orang tua mengatakan:"AYO, kalau kamu mau masuk ke situ, cari BEASISWA. BERJUANGLAH untuk mendapat nilai bagus supaya kamu mudah mendapat BEASISWA! Carilah yayasan-yayasan yang menawarkan BEASISWA!"
Hal yang menarik kedua, para ortu tidak MAU belajar untuk PEKA terhadap apa yang menjadi KEHEBATAN atau GREATNESS anak-anak mereka. Mungkin karena sangat super sibuk, mereka dengan mudah berkata:"wah ... apa ya kelebihan si Anu? saya nggak terlalu merhatiin."
Sebenarnya, untuk menambah kepekaan kita sebagai orang tua masih sangat mungkin. Yang perlu kita lakukan adalah "membandingkan" dengan anak orang lain. Kita lihat kemampuan anak kita, lalu kita bandingkan dengan anak orang lain. SUDAH!
Namun, ada juga yang sudah "membandingkan" tapi yang dibandingkan hanya "KEJELEKAN" anaknya sendiri. Seorang kenalan, seorang wanita, ketika bercerita tentang anaknya, dia berkata:"Wah..anak saya nggak bisa diam, jadi mengganggu terus. Dia juga suka lupa, bahkan tanggal lahirnya aja dia suka lupa"
Namun, setelah saya desak, si ibu ini akhirnya MAU berpikir keras untuk mencari kelebihan anaknya, lalu bilang:"oya.. dia itu punya bakat nyanyi, senang ARTS, dan pernah bercita-cita untuk menjadi bintang TV macam yang di ART ATTACK!" Jadi, kesimpulan tentang kepekaan ORTU, kuncinya adalah mau mengubah paradigma melihat KEJELEKAN anak menjadi melihat KEHEBATAN anak.
Lalu, bagaimana menjembatani perbedaan cita-cita milik anak dengan cita-cita yang disodorkan oleh orang tua?
Kuncinya adalah: DISKUSI!
Sudah berapa seringkah orangtua berdiskusi tentang kelebihan anak mereka dengan si YBS (yang bersangkutan). Lalu, dilanjutkan dengan mencari tahu cita-cita mereka, lalu mencoba mencari solusi, tanpa harus memaksakan kehendak. Saran saya, pada saat remaja telah duduk di kelas 9 (3 SMP), lakukanlah sesering mungkin. Karena, setelah lulus SMP, sudah harus memilih apakah mau masuk SMK atau SMU. Jika terlambat, berarti anak anda sudah MEMASUKI jalan tertentu tapi mereka tidak tahu mereka sebenarnya mau KEMANA.
FYI, untuk SMK, setelah lulus, menurut data tahun lalu, 85 persen akan langsung masuk dunia kerja, karena mereka telah punya SKILL. Dan, mereka tetap punya kesempatan untuk kuliah pada bidang-bidang yang sesuai.
Punya waktu untuk DISKUSI?
5 December 2008
Dalam beberapa kasus yang harus saya hadapi, sesuatu yang sangat menonjol adalah adanya perbedaan yang lebar antara cita-cita para remaja dengan cita-cita yang dibuat oleh orang tua bagi anak-anak mereka. Ada kondisi di mana remaja mengalah demi berbakti kepada ortu mereka. Namun, ada kasus di mana si remaja berkeras untuk mencapai cita-citanya sendiri meskipun sangat ditentang oleh ortunya.
Sampai-sampai, si remaja membuat pernyataan, untuk membesarkan hatinya sendiri, kira-kira seperti ini:"Tetaplah pada cita-citamu walaupun orang tua kita tidak percaya bahwa kita dapat mencapai apa yang kita mau. Kita harus yakin bahwa kita bisa..."
Dalam kasus yang lain, si remaja dengan pasrah berkata:"Pak, khan kalau kita mengikuti apa yang dikatakan orang tua berarti kita berbakti kepada mereka..."
Yang PALING menarik, ternyata para remaja mengaku bahwa sangat mungkin orang tua mereka tidak mengetahui apa kelebihan atau kehebatan anak-anak mereka. Pada kasus pertama si remaja bahkan berkali-kali bertanya kepada saya:"Pak, kok bisa ya .. orang tua saya tidak tahu kelebihan dan kehebatan saya?"
Jadi, cita-cita yang disodorkan oleh ortu bagi anak-remaja mereka adalah sesuatu yang sangat IDEAL, bagi para orang tua, walaupun belum tentu IDEAL bagi remaja yang menjalaninya.
Bagaimana sebaiknya menjembatani kedua macam kasus seperti ini?
Apa pertimbangan orang tua dalam menyodorkan cita-cita?
Nyaris PASTI, para ortu menyodorkan sesuatu yang nantinya akan memberikan kesejahteraan bagi anak-anak mereka. Ada orang tua yang melihat bahwa menjadi PEGAWAI NEGERI akan menjadikan anak-anak mereka SEJAHTERA, dapat ASKES,dan dapat PENSIUN. Ada ortu yang memikirkan masalah BIAYA yang mahal kalau misalkan anaknya kuliah di Fakultas KEDOKTERAN. Ada orang tua yang bilang bahwa kalau anaknya masuk STAN, nanti "PASTI" sejahtera, dlsb.
Dalam masalah biaya, yang mengherankan, para ortu tidak terlalu mendorong anak-remaja mereka untuk BERJUANG mencari BEASISWA, dalam keadaan ortu yang "kurang mampu." Para ortu lebih condong dan lebih sering berkata:"JANGAN masuk ke situ, biayanya MAHAL!" Bukankah lebih POSITIF jika para orang tua mengatakan:"AYO, kalau kamu mau masuk ke situ, cari BEASISWA. BERJUANGLAH untuk mendapat nilai bagus supaya kamu mudah mendapat BEASISWA! Carilah yayasan-yayasan yang menawarkan BEASISWA!"
Hal yang menarik kedua, para ortu tidak MAU belajar untuk PEKA terhadap apa yang menjadi KEHEBATAN atau GREATNESS anak-anak mereka. Mungkin karena sangat super sibuk, mereka dengan mudah berkata:"wah ... apa ya kelebihan si Anu? saya nggak terlalu merhatiin."
Sebenarnya, untuk menambah kepekaan kita sebagai orang tua masih sangat mungkin. Yang perlu kita lakukan adalah "membandingkan" dengan anak orang lain. Kita lihat kemampuan anak kita, lalu kita bandingkan dengan anak orang lain. SUDAH!
Namun, ada juga yang sudah "membandingkan" tapi yang dibandingkan hanya "KEJELEKAN" anaknya sendiri. Seorang kenalan, seorang wanita, ketika bercerita tentang anaknya, dia berkata:"Wah..anak saya nggak bisa diam, jadi mengganggu terus. Dia juga suka lupa, bahkan tanggal lahirnya aja dia suka lupa"
Namun, setelah saya desak, si ibu ini akhirnya MAU berpikir keras untuk mencari kelebihan anaknya, lalu bilang:"oya.. dia itu punya bakat nyanyi, senang ARTS, dan pernah bercita-cita untuk menjadi bintang TV macam yang di ART ATTACK!" Jadi, kesimpulan tentang kepekaan ORTU, kuncinya adalah mau mengubah paradigma melihat KEJELEKAN anak menjadi melihat KEHEBATAN anak.
Lalu, bagaimana menjembatani perbedaan cita-cita milik anak dengan cita-cita yang disodorkan oleh orang tua?
Kuncinya adalah: DISKUSI!
Sudah berapa seringkah orangtua berdiskusi tentang kelebihan anak mereka dengan si YBS (yang bersangkutan). Lalu, dilanjutkan dengan mencari tahu cita-cita mereka, lalu mencoba mencari solusi, tanpa harus memaksakan kehendak. Saran saya, pada saat remaja telah duduk di kelas 9 (3 SMP), lakukanlah sesering mungkin. Karena, setelah lulus SMP, sudah harus memilih apakah mau masuk SMK atau SMU. Jika terlambat, berarti anak anda sudah MEMASUKI jalan tertentu tapi mereka tidak tahu mereka sebenarnya mau KEMANA.
FYI, untuk SMK, setelah lulus, menurut data tahun lalu, 85 persen akan langsung masuk dunia kerja, karena mereka telah punya SKILL. Dan, mereka tetap punya kesempatan untuk kuliah pada bidang-bidang yang sesuai.
Punya waktu untuk DISKUSI?
Minggu, 23 November 2008
Cita-Cita: Pengusaha KAOS GAUL
by Y.S. Aji Soedarsono
23 November 2008
Bila anda punya cita-cita menjadi Pengusaha KAOS GAUL, maka anda termasuk orang-orang yang cerdas! Karena, mereka yang sudah BERJAYA menjadi Pengusaha KAOS GAUL di Indonesia, semuanya adalah orang-orang cerdas. Artinya, sejak mereka punya cita-cita menjadi Pengusaha KAOS GAUL, sudah sangat cerdaslah mereka.
Sebutlah SALAH TIGA dari merek-merek yang sudah EKSIS dalam dunia Kaos Gaul di Indonesia: C-59 (Bandung), DAGADU (Jokja) dan JOGER (Bali). Perhatikan: mereka saya sebutkan berdasarkan alfabetis, karena menurut saya, mereka itu, semuanya, adalah nomor 1. Merek mereka telah mempunyai pasar masing-masing. Para pendirinya adalah oranag-orang yang sangat cerdas dalam memilih kata-kata dan motif gambar yang akan mereka tampilkan pada KAOS dan aneka aksesori lainnya.
Bagaimana peluang bisnis Kaos Gaul?
Apakah ada batasnya?
Kapan harus mulai?
Peluang bisnis Kaos Gaul di Indonesia, masih sangat besar. Walau bagaimana pun yang namanya KAOS adalah salah satu dari kebutuhan hidup manusia, selain pangan dan papan. Kaos termasuk dalam kategori kebutuhan pokok, yakni kebutuhan SANDANG. Apalagi, setelah saya amati, harga jual merek-merek ini masih termasuk terjangkau. Apalagi, ditambah dengan kualitas bahan yang baik dan termasuk tahan lama. Jadi, para pembeli merasa beruntung dapat membeli SANDANG yang murah dan BAGUS.
Belum lagi, kaos-kaos gaul itu, sangat fleksibel pemakaiannya. Dari acara sangat santai sampai acara yang nyaris resmi masih bagus untuk dipakai. Bahkan, kadang-kadang, seniman memakai KAOS GAUL dalam acara resmi yang disorot televisi.
Apakah pasar di Indonesia sudah JENUH? Saya pikir tidak! Masih sangat luas pangsa pasarnya, apalagi jika kecerdasan yang ditampilkan lebih beraneka-ragam, maka akan menciptakan ceruk pasar yang baru lagi. Kreativitas yang cerdas dalam bentuk kata-kata dan gambar tidak mempunyai batasan. Sejauh imajinasi dapat menjangkau, kreativitas masih dapat dihargai.
Apalagi, jika dilihat dari cara pembuatannya yang sangat low tech, namun sudah dapat menjadi sebuah komoditas yang bagus, hampir semua orang dapat melakukannya. Jadi, low tech dan low capital. Semua tergantung kreativitas, cara pembuatan dan kemudian jika telah ada yang memakai, maka akan menjadi etalase tersendiri bagi penjual kaos dan si empunya MEREK itu.
Kapan sebaiknya memulai bisnis ini bagi yang punya cita-cita menjadi Pengusaha KAOS GAUL? Jawabnya: SEKARANG!
Orang boleh bilang sekarang adalah jaman yang semua orang sedang "menahan duit," namun orang juga membutuhkan MOTIVASI dan KATA-KATA CERDAS, serta PLESETAN (PARODI) yang akan sangat membantu orang-orang yang sedang gundah dan gulana. Untuk itu KAOS GAUL sangat diperlukan. Baik untuk si Pemakai maupun si Pembaca atau penonton KAOS GAUL itu.
Jadi, jangan takut untuk berinvestasi, jika anda memang cerdas dan punya jiwa entrepreneurship serta GAUL. Yang paling penting, anda melakukan dulu survei untuk mendapatkan "ceruk" yang belum dimasuki oleh para pengusaha KAOS GAUL yang telah malang-melintang selama ini. Anda MAU?
(Warning! VISIT INDONESIA! And get the BEAUTIES and CHALLENGES!)
23 November 2008
Bila anda punya cita-cita menjadi Pengusaha KAOS GAUL, maka anda termasuk orang-orang yang cerdas! Karena, mereka yang sudah BERJAYA menjadi Pengusaha KAOS GAUL di Indonesia, semuanya adalah orang-orang cerdas. Artinya, sejak mereka punya cita-cita menjadi Pengusaha KAOS GAUL, sudah sangat cerdaslah mereka.
Sebutlah SALAH TIGA dari merek-merek yang sudah EKSIS dalam dunia Kaos Gaul di Indonesia: C-59 (Bandung), DAGADU (Jokja) dan JOGER (Bali). Perhatikan: mereka saya sebutkan berdasarkan alfabetis, karena menurut saya, mereka itu, semuanya, adalah nomor 1. Merek mereka telah mempunyai pasar masing-masing. Para pendirinya adalah oranag-orang yang sangat cerdas dalam memilih kata-kata dan motif gambar yang akan mereka tampilkan pada KAOS dan aneka aksesori lainnya.
Bagaimana peluang bisnis Kaos Gaul?
Apakah ada batasnya?
Kapan harus mulai?
Peluang bisnis Kaos Gaul di Indonesia, masih sangat besar. Walau bagaimana pun yang namanya KAOS adalah salah satu dari kebutuhan hidup manusia, selain pangan dan papan. Kaos termasuk dalam kategori kebutuhan pokok, yakni kebutuhan SANDANG. Apalagi, setelah saya amati, harga jual merek-merek ini masih termasuk terjangkau. Apalagi, ditambah dengan kualitas bahan yang baik dan termasuk tahan lama. Jadi, para pembeli merasa beruntung dapat membeli SANDANG yang murah dan BAGUS.
Belum lagi, kaos-kaos gaul itu, sangat fleksibel pemakaiannya. Dari acara sangat santai sampai acara yang nyaris resmi masih bagus untuk dipakai. Bahkan, kadang-kadang, seniman memakai KAOS GAUL dalam acara resmi yang disorot televisi.
Apakah pasar di Indonesia sudah JENUH? Saya pikir tidak! Masih sangat luas pangsa pasarnya, apalagi jika kecerdasan yang ditampilkan lebih beraneka-ragam, maka akan menciptakan ceruk pasar yang baru lagi. Kreativitas yang cerdas dalam bentuk kata-kata dan gambar tidak mempunyai batasan. Sejauh imajinasi dapat menjangkau, kreativitas masih dapat dihargai.
Apalagi, jika dilihat dari cara pembuatannya yang sangat low tech, namun sudah dapat menjadi sebuah komoditas yang bagus, hampir semua orang dapat melakukannya. Jadi, low tech dan low capital. Semua tergantung kreativitas, cara pembuatan dan kemudian jika telah ada yang memakai, maka akan menjadi etalase tersendiri bagi penjual kaos dan si empunya MEREK itu.
Kapan sebaiknya memulai bisnis ini bagi yang punya cita-cita menjadi Pengusaha KAOS GAUL? Jawabnya: SEKARANG!
Orang boleh bilang sekarang adalah jaman yang semua orang sedang "menahan duit," namun orang juga membutuhkan MOTIVASI dan KATA-KATA CERDAS, serta PLESETAN (PARODI) yang akan sangat membantu orang-orang yang sedang gundah dan gulana. Untuk itu KAOS GAUL sangat diperlukan. Baik untuk si Pemakai maupun si Pembaca atau penonton KAOS GAUL itu.
Jadi, jangan takut untuk berinvestasi, jika anda memang cerdas dan punya jiwa entrepreneurship serta GAUL. Yang paling penting, anda melakukan dulu survei untuk mendapatkan "ceruk" yang belum dimasuki oleh para pengusaha KAOS GAUL yang telah malang-melintang selama ini. Anda MAU?
(Warning! VISIT INDONESIA! And get the BEAUTIES and CHALLENGES!)
Jumat, 21 November 2008
Cita-Cita: Perancang BUSANA
by Y.S. Aji Soedarsono
21 November 2008
Apa jadinya manusia di bumi ini jika tanpa selembar atau beberapa lembar daun untuk menutupi tubuhnya, pada awalnya dahulu? Mungkin dedaunan adalah rancangan busana yang pertama kali hadir bagi manusia. Tapi, jelas bukan yang terakhir. Artinya masih banyak bahan dasar, proses, corak dan genre yang dapat dipakai sebagai pembeda dalam membuat rancangan busana, baik bagi pria maupun wanita.
Kalau MILAN jadi salah satu kota mode dunia, bukan berarti tempat lain tidak ada nilai dalam soal perancangan busana. Kota-kota di Indonesia yang mempunyai latar etnik yang beragam juga dapat menawarkan suatu rancangan yang berbeda.
Apakah pernah terlintas dalam benak anda untuk punya cita-cita menjadi Perancang BUSANA? Menjadi perancang busana adalah menjadi seseorang yang BERBEDA! Berbeda karena memang harus berbeda untuk dapat disebut KREATIF dan karyanya diterima oleh masyarakat.
Bagaimana prospeknya?
Di mana belajarnya?
Apa saja genre-nya?
Prospeknya sangat CERAH! Asalkan, para perancang mempunyai bakat dan hasrat yang sama besarnya untuk KREATIF. Pasarnya tetap besar. Tidak harus diekpor. Untuk kebutuhan dalam negeri saja asalkan dikelola dengan baik, dirancang dengan kreatif, dipasarkan dan dikemas dengan menarik, dapat meraup untung.
Pernah dengar wisatawan Indonesia yang pergi ke Malaysia dan memborong baju yang berasal dari Indonesia? Kalau belum pernah, maka sekarang sudah pernah (membacanya)!
Untuk belajar menjadi perancang busana banyak caranya. Ada sekolah yang menawarkan keahlian dan sekaligus gelar. Ada yang menawarkan kreativitas tanpa gelar. Ada banyak tersebar di Jakarta, Surabaya dan Bali.
Jakarta menjadi pilihan lahan bagi para Perancang Busana karena banyak yang menawarkan jasa perancangan kepada selebritis dan VIP, yang mempunyai anggaran yang lumayan banyak. Itulah sebabnya banyak juga sekolah mode dan perancangan yang hadir di sana. Surabaya juga tidak kalah, karena merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Ada beberapa sekolah perancangan busana dan fashion di sana. Bali tentu tidak mau kalah karena mereka selalu dapat menawarkan sesuatu yang memang khas Bali dan sangat kreatif. Setidaknya ada tempat magang bagi para calon perancang busana untuk belajar kepada Perancang Busana yang telah mapan.
Aliran rancangan busana juga macam-macam. Ala Eropa dengan 4 musimnya, ala Oriental, ala Afrika (corak warna-warni yang ternyata banyak diborong), ala Nusantara (etnik termasuk batik) dan lain-lain. Bahkan, di Indonesia sudah mulai dikenal sebagai tempat Perancang Busana Muslimah yang luar biasa. Perhatikan: Ada kerudung "Mbak TUTUT", ada kerudung Profesional, kerudung Gaul, dll. Belum lagi yang menawarkan rancangan yang kontemporer, yang benar-benar beda. Itu semua belum termasuk para perancang Kaos (T-Shirt) Gaul, yang akan dibahas pada artikel yang terpisah.
Pendek kata, bagi anda yang punya bakat seni lukis, senirupa dan mempunyai cita-cita dan HASRAT yang DAHSYAT untuk menjadi Perancang Busana, dunia masih terbuka sangat luas. Anda MINAT?
21 November 2008
Apa jadinya manusia di bumi ini jika tanpa selembar atau beberapa lembar daun untuk menutupi tubuhnya, pada awalnya dahulu? Mungkin dedaunan adalah rancangan busana yang pertama kali hadir bagi manusia. Tapi, jelas bukan yang terakhir. Artinya masih banyak bahan dasar, proses, corak dan genre yang dapat dipakai sebagai pembeda dalam membuat rancangan busana, baik bagi pria maupun wanita.
Kalau MILAN jadi salah satu kota mode dunia, bukan berarti tempat lain tidak ada nilai dalam soal perancangan busana. Kota-kota di Indonesia yang mempunyai latar etnik yang beragam juga dapat menawarkan suatu rancangan yang berbeda.
Apakah pernah terlintas dalam benak anda untuk punya cita-cita menjadi Perancang BUSANA? Menjadi perancang busana adalah menjadi seseorang yang BERBEDA! Berbeda karena memang harus berbeda untuk dapat disebut KREATIF dan karyanya diterima oleh masyarakat.
Bagaimana prospeknya?
Di mana belajarnya?
Apa saja genre-nya?
Prospeknya sangat CERAH! Asalkan, para perancang mempunyai bakat dan hasrat yang sama besarnya untuk KREATIF. Pasarnya tetap besar. Tidak harus diekpor. Untuk kebutuhan dalam negeri saja asalkan dikelola dengan baik, dirancang dengan kreatif, dipasarkan dan dikemas dengan menarik, dapat meraup untung.
Pernah dengar wisatawan Indonesia yang pergi ke Malaysia dan memborong baju yang berasal dari Indonesia? Kalau belum pernah, maka sekarang sudah pernah (membacanya)!
Untuk belajar menjadi perancang busana banyak caranya. Ada sekolah yang menawarkan keahlian dan sekaligus gelar. Ada yang menawarkan kreativitas tanpa gelar. Ada banyak tersebar di Jakarta, Surabaya dan Bali.
Jakarta menjadi pilihan lahan bagi para Perancang Busana karena banyak yang menawarkan jasa perancangan kepada selebritis dan VIP, yang mempunyai anggaran yang lumayan banyak. Itulah sebabnya banyak juga sekolah mode dan perancangan yang hadir di sana. Surabaya juga tidak kalah, karena merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Ada beberapa sekolah perancangan busana dan fashion di sana. Bali tentu tidak mau kalah karena mereka selalu dapat menawarkan sesuatu yang memang khas Bali dan sangat kreatif. Setidaknya ada tempat magang bagi para calon perancang busana untuk belajar kepada Perancang Busana yang telah mapan.
Aliran rancangan busana juga macam-macam. Ala Eropa dengan 4 musimnya, ala Oriental, ala Afrika (corak warna-warni yang ternyata banyak diborong), ala Nusantara (etnik termasuk batik) dan lain-lain. Bahkan, di Indonesia sudah mulai dikenal sebagai tempat Perancang Busana Muslimah yang luar biasa. Perhatikan: Ada kerudung "Mbak TUTUT", ada kerudung Profesional, kerudung Gaul, dll. Belum lagi yang menawarkan rancangan yang kontemporer, yang benar-benar beda. Itu semua belum termasuk para perancang Kaos (T-Shirt) Gaul, yang akan dibahas pada artikel yang terpisah.
Pendek kata, bagi anda yang punya bakat seni lukis, senirupa dan mempunyai cita-cita dan HASRAT yang DAHSYAT untuk menjadi Perancang Busana, dunia masih terbuka sangat luas. Anda MINAT?
Minggu, 16 November 2008
Cita-Cita: BIDAN yang SIAGA
by Y.S. Aji Soedarsono
16 November 2008
Indonesia yang punya ribuan pulau membutuhkan banyak DOKTER. Namun, ternyata bukan hanya Dokter, sebagai tenaga medis yang dibutuhkan, BIDAN yang SIAGA pun sangat dibutuhkan di seantero Nusantara.
Kalau berdasarkan data tidak resmi bahwa angka pertambahan penduduk Indonesia adalah 1.8 persen per tahun, berarti kira-kira ada 10.000 kelahiran per Hari! Jadi, memang akan sangat membutuhkan tenaga medis yang ahli dalam proses membantu kelahiran bayi.
Bagaimana prospeknya?
Bagaimana karirnya?
Anda punya cita-cita menjadi BIDAN?
Prospeknya sangat cerah. Bahkan ada Akademi Kebidanan yang berupaya menyalurkan lulusannya ke luar negeri. Biaya kuliah relatif murah. Waktu kuliah cuma 3 tahun. Syarat: wanita, tinggi minimal 150 cm dari SMU/SMA dari semua jurusan (IPA, IPS, Bahasa) boleh! SMK Kesehatan juga boleh. Yang paling penting, tidak ada cacat badan yang mengganggu saat kuliah dan bekerja. Tidak boleh buta warna, karena warna sangat penting dalam dunia kesehatan.
Karir dan pendidikan juga sangat terbuka, dengan semakin banyak rumah sakit yang bertumbuh di negeri ini. Kalau yang punya jiwa bisnis, dapat juga membangun klinik bersalin bersama dengan rekan. Dalam hal pendidikan lanjutan, biasanya mereka melanjutkan menjadi Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) dan kemudian meneruskan ke Magister/Master bidang Kesehatan (MKes).
Kenyataannya, sudah terbukti ada bu Bidan yang sukses membangun Klinik bersalin, dengan bekerja sama dengan dokter spesialis kebidanan dan dokter anak. Sebagian kecil saham kliniknya ada yang diberikan kepada para dokter tersebut, yang praktek di sana. Jadi, mereka bersinergi.
Namun, itu semua tidak berarti bahwa Bidan tidak perlu mengabdi kepada negeri ini. Di pelosok Nusantara pun masih membutuhkan banyak bidan. Banyak dibutuhkan Bidan yang Siaga!
Anda berMINAT?
16 November 2008
Indonesia yang punya ribuan pulau membutuhkan banyak DOKTER. Namun, ternyata bukan hanya Dokter, sebagai tenaga medis yang dibutuhkan, BIDAN yang SIAGA pun sangat dibutuhkan di seantero Nusantara.
Kalau berdasarkan data tidak resmi bahwa angka pertambahan penduduk Indonesia adalah 1.8 persen per tahun, berarti kira-kira ada 10.000 kelahiran per Hari! Jadi, memang akan sangat membutuhkan tenaga medis yang ahli dalam proses membantu kelahiran bayi.
Bagaimana prospeknya?
Bagaimana karirnya?
Anda punya cita-cita menjadi BIDAN?
Prospeknya sangat cerah. Bahkan ada Akademi Kebidanan yang berupaya menyalurkan lulusannya ke luar negeri. Biaya kuliah relatif murah. Waktu kuliah cuma 3 tahun. Syarat: wanita, tinggi minimal 150 cm dari SMU/SMA dari semua jurusan (IPA, IPS, Bahasa) boleh! SMK Kesehatan juga boleh. Yang paling penting, tidak ada cacat badan yang mengganggu saat kuliah dan bekerja. Tidak boleh buta warna, karena warna sangat penting dalam dunia kesehatan.
Karir dan pendidikan juga sangat terbuka, dengan semakin banyak rumah sakit yang bertumbuh di negeri ini. Kalau yang punya jiwa bisnis, dapat juga membangun klinik bersalin bersama dengan rekan. Dalam hal pendidikan lanjutan, biasanya mereka melanjutkan menjadi Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) dan kemudian meneruskan ke Magister/Master bidang Kesehatan (MKes).
Kenyataannya, sudah terbukti ada bu Bidan yang sukses membangun Klinik bersalin, dengan bekerja sama dengan dokter spesialis kebidanan dan dokter anak. Sebagian kecil saham kliniknya ada yang diberikan kepada para dokter tersebut, yang praktek di sana. Jadi, mereka bersinergi.
Namun, itu semua tidak berarti bahwa Bidan tidak perlu mengabdi kepada negeri ini. Di pelosok Nusantara pun masih membutuhkan banyak bidan. Banyak dibutuhkan Bidan yang Siaga!
Anda berMINAT?
Sabtu, 15 November 2008
Cita-Cita: Konsultan Politik
by Y.S. Aji Soedarsono
15 November 2008
Dalam 5 bulan ke depan, Indonesia akan melakukan lagi Pemilihan Umum. Sudah selayaknya, seluruh rakyat menyambut gembira. Ini adalah kesempatan untuk menentukan masa depan Indonesia, setidaknya 5 tahun ke depan.
Tentu saja, yang paling berdebar-debar, adalah para politisi, baik yang ingin menjadi anggota Legislatif, terlebih lagi yang ingin menjadi pemimpin Eksekutif (baca: Presiden).
Di luar mereka, ada juga yang sedang bersiap dan mungkin sudah aktif membantu para calon Legislatif dan calon Eksekutif. Mereka adalah para KONSULTAN POLITIK tingkat nasional. Dalam cakupan yang lebih kecil, mereka sebagian sudah berkiprah di tingkat Provinsi, Kabupaten, Kota, dan mungkin ada yang lebih kecil, Kecamatan dan Kelurahan. Ini adalah merupakan peluang untuk mengatasi pengangguran di masa penuh tantangan ini.
Bagaimana peluangnya ke depan?
Berapa bayaran "proyek" konsultasinya?
Latar belakang bagi yang punya cita-cita menjadi Konsultan Politik ada berbagai macam. Ada yang berlatar belakang kuliah Komunikasi Politik, Marketing, Market Research, atau juga ahli matematika statistika.
Bagaimana bayarannya?
Menurut seorang praktisi yang mempunyai latar belakang Komunikasi Politik, untuk ukuran yang sedang-sedang saja, untuk masa 4 bulan, tarifnya adalah 40 Milyar rupiah. Itu sebenarnya tergantung pada siapa yang diajukan dan di daerah mana.
Senjata utama para konsultan ini adalah survei yang dilakukan oleh para surveyor yang dibayar oleh si konsultan. Para surveyor mencari sampel data dengan menanyai masyarakat tentang calon yang sedang diusulkan. Ini adalah pekerjaan statistik. Dan, metode ini pun sudah sangat sering dilakukan oleh para praktisi Market Research, hanya yang diamati saja yang berbeda.
Idealnya, para konsultan ini menyajikan data yang benar untuk dilaporkan kepada si penyewa jasa. Kemudian, berdasarkan data, diajukan pula proposal bagaimana untuk memenangkan pemilihan. Makin sulit tantangannya, makin besar tarif untuk memenangkannya. Hal itu juga dapat termasuk biaya konsultasi pembuatan isi konsep iklan politik. Setelah konsep jelas, maka akan "dilempar" ke produser iklannya, apakah berupa video klip, narasi untuk iklan radio, baliho, atau juga poster untuk ditempel di dinding-dinding pagar yang tak bertuan.
Demikian luasnya cakupan itu membuat bisnis konsultasi politik dapat menjadi mesin untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Apalagi Indonesia mempunyai 30-an partai yang ikut serta dalam pemilu.
Apakah anda mempunyai cita-cita menjadi Konsultan Politik?
15 November 2008
Dalam 5 bulan ke depan, Indonesia akan melakukan lagi Pemilihan Umum. Sudah selayaknya, seluruh rakyat menyambut gembira. Ini adalah kesempatan untuk menentukan masa depan Indonesia, setidaknya 5 tahun ke depan.
Tentu saja, yang paling berdebar-debar, adalah para politisi, baik yang ingin menjadi anggota Legislatif, terlebih lagi yang ingin menjadi pemimpin Eksekutif (baca: Presiden).
Di luar mereka, ada juga yang sedang bersiap dan mungkin sudah aktif membantu para calon Legislatif dan calon Eksekutif. Mereka adalah para KONSULTAN POLITIK tingkat nasional. Dalam cakupan yang lebih kecil, mereka sebagian sudah berkiprah di tingkat Provinsi, Kabupaten, Kota, dan mungkin ada yang lebih kecil, Kecamatan dan Kelurahan. Ini adalah merupakan peluang untuk mengatasi pengangguran di masa penuh tantangan ini.
Bagaimana peluangnya ke depan?
Berapa bayaran "proyek" konsultasinya?
Latar belakang bagi yang punya cita-cita menjadi Konsultan Politik ada berbagai macam. Ada yang berlatar belakang kuliah Komunikasi Politik, Marketing, Market Research, atau juga ahli matematika statistika.
Bagaimana bayarannya?
Menurut seorang praktisi yang mempunyai latar belakang Komunikasi Politik, untuk ukuran yang sedang-sedang saja, untuk masa 4 bulan, tarifnya adalah 40 Milyar rupiah. Itu sebenarnya tergantung pada siapa yang diajukan dan di daerah mana.
Senjata utama para konsultan ini adalah survei yang dilakukan oleh para surveyor yang dibayar oleh si konsultan. Para surveyor mencari sampel data dengan menanyai masyarakat tentang calon yang sedang diusulkan. Ini adalah pekerjaan statistik. Dan, metode ini pun sudah sangat sering dilakukan oleh para praktisi Market Research, hanya yang diamati saja yang berbeda.
Idealnya, para konsultan ini menyajikan data yang benar untuk dilaporkan kepada si penyewa jasa. Kemudian, berdasarkan data, diajukan pula proposal bagaimana untuk memenangkan pemilihan. Makin sulit tantangannya, makin besar tarif untuk memenangkannya. Hal itu juga dapat termasuk biaya konsultasi pembuatan isi konsep iklan politik. Setelah konsep jelas, maka akan "dilempar" ke produser iklannya, apakah berupa video klip, narasi untuk iklan radio, baliho, atau juga poster untuk ditempel di dinding-dinding pagar yang tak bertuan.
Demikian luasnya cakupan itu membuat bisnis konsultasi politik dapat menjadi mesin untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Apalagi Indonesia mempunyai 30-an partai yang ikut serta dalam pemilu.
Apakah anda mempunyai cita-cita menjadi Konsultan Politik?
Langganan:
Postingan (Atom)