by Yudistira S.A. Soedarsono
20 Mei 2010
Pada bulan April 2010, saya diajak oleh seorang penggiat pendidikan di Jawa Tengah, tepatnya di kota Tegal untuk menjadi "peninjau" pada saat pelaksanaan UN SMP. Pagi itu yang menjadi target ada 4 buah sekolah SMP atau sederajat di selatan kota SLAWI.
Setelah berliku-liku menumpang kendaraan melalui jalan aspal sempit, sampailah kami di sekolah yang pertama. Demikian seterusnya, melalui jalan yang juga berliku dan sempit, melalui perkampungan dan persawahan sampai kami di 2 sekolah lainnya, sementara yang satu lagi agak ke dekat kota Slawi.
Ada nuansa yang nyaris seragam yang dapat saya tangkap di setiap sekolah yang kami kunjungi. Ada ketegangan yang nampak di setiap wajah Kepala Sekolah. Ketegangan menjadi sangat NYATA, ketika salah satu anggota rombongan penilik (rombongan yang saya "ikuti")bertanya:
"Jadi berapa Pak/Bu, target kelulusan di sini?"
Jawabannya cukup mirip dari satu Kepsek dengan lainnya. Mereka mengatakan tentu harapan sangat tinggi. Apakah mungkin mereka menjawab "target angka yang rendah" di hadapan bapak-bapak penilik?
Salah seorang Ibu Kepala Sekolah, bahkan secara nyata ingin agar sistem di kembalikan ke semula memakai EBTANAS, karena toh, saat akan masuk ke jenjang yang lebih tinggi masih ada lagi ujian masuknya.
Saya sangat setuju dengan sikap MAhkamah Konstitusi yang lebih mengarahkan agar segala prasarana dan sarana penunjang dilengkapi lebih dulu sebelum UN yang berstandar nasional diberlakukan.
Melihat situasi dan kondisi di mana SISWA, GURU dan ORANGTUA menjadi sangat tertekan pada pekan UN, khususnya di kalangan sekolah yang bukan unggulan, yang menjurus kepada tindakan yang tidak terpuji bersama-sama (tindakan tidak terpuji berjamaah), maka saya lebih setuju jika UN dibekukan dulu, sambil menunggu SELURUH prasarana dan sarana pendidikan terdistribusi merata di bumi Indonesia.
Saya tidak terlalu heran jika saat pengumuman, bagi yang tidak lulus menjadi sangat terpukul. Penantian yang lama dan usaha keras sepanjang tahun terakhir seolah sia-sia dan bumi bagaikan berhenti berputar!
Sebuah pengukuran statistik TIDAK BOLEH menentukan TARGET hasil. Ketika kita menargetkan, maka kita sudah terjebak dalam pola rekayasa hasil. Jika UN dimaksudkan untuk standardisasi, maka yang MENDESAK dan PENTING untuk distandardisasi adalah PRASARANA dan SARANA Pendidikannya. Seharusnya UN adalah sebagai Umpan Balik yang tidak harus menentukan kelulusan siswa. Biarlah guru mereka masing-masing yang menentukannya dengan memerhatikan aktifitas siswa selama bersekolah.
Ketika sebuah sekolah dengan bangga menyatakan bahwa 100% siswanya lulus UN, maka masih perlu dikalikan dengan angka KOEFISIEN KEJUJURAN. Oleh sebab sangat penasaran, saya melakukan survei kecil di Jakarta Selatan, dengan sekitar 70an responden. Hasil sementaranya, 25 persen para siswa yang 1-2 tahun lalu ikut UN SMP melakukan tindakan MENCONTEK! Adakah pihak lain yang juga melakukan survei semacam itu? Kalau ada, saya sungguh ingin mengetahui hasil surveinya.
Ketika 20 persen anggaran diarahkan dalam bidang pendidikan, maka itu seharusnya dapat menjadi PRASARANA dan SARANA pendidikan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Ketika itu semua sudah terstandardisasi, maka saya berargumentasi bahwa jika sama-sama jujurnya, maka hasil UN setelah PRASARANA dan SARANA standar pasti akan lebih baik.
Anda SETUJU?
Kamis, 20 Mei 2010
Senin, 08 Februari 2010
Ingin Jadi GURU AGAMA
by Yudistira S.A. Soedarsono
8 Februari 2010
Dua hari yang lalu, saya mendapatkan SMS dari seorang bernama VERA di Sawahlunto, Sumatera Barat (no HP 085766041xxx). Berikut ini Tanya jawab yang terjadi:
Vera (Tanya): Apakah ini no. HP penulis DreamSMART(R)?
Yudistira (Jawab): Iya.. Ini dari Siapa? dan di mana?
Tanya: Dari Nelya Veronica, Siswi SMAN 1 Sawahlunto, Sumatera Barat.
Jawab: Adakah yang dapat saya bantu?
Tanya: Vera pengen belajar banyak ne tentang cita-cita sama kakak..
Jawab: Boleh.. Vera mau nanya apa? Mau jadi apa?
Tanya: Vera tu pengen banged jadi Guru kak.. tapi 3x dalam sehari.. Bisa gak Kak?
Jawab: Maksudnya bagaimana? Belum jelas..
Tanya: Begini.. Vera tu pengen kalau pagi ngejar di sekolah, trus siang ngajar di madrasah (MDA) n malamnya jadi guru ngaji Kak.. Gimana?
Jawab: Boleh aja kalau pandai atur waktu dan tenaga kamu. Ngajar pagi di bidang apa?
Tanya: Pengennya sih di bidang umum aja Kak. Gak terfokus ke satu bidang aja.
Jawab: Maksudnya sekarang ini atau setelah lulus SMA? Atau, setelah lulus kuliah?
Tanya: Setelah lulus SMA kalau dapat Kak.
Jawab: Oh begitu... Kalau jadi guru, resminya harus sarjana. Kamu suka pelajaran apa? Hobimu apa?
Tanya: Agama sama Sosiologi Kak. Kalau hobi Vera baca Al-Qur'an sama nyanyi Kak..
Jawab: Kalau begitu pilihlah satu bidang untuk kuliah nanti.
Tanya: Kalau saya pilih bidang agama, gimana menurut Kakak?
Jawab: Bagus. Berarti baiknya masuk UIN, Universitas Islam Negeri (dulu IAIN).
Tanya: Oke.thanks ya Kak..atas masukannya.. Kapan-kapan kita sambung lagi yan Kak..
Jawab: Iya.. sama-sama. Sukses ya.
Tanya: iya Kak.. doain Vera ya Kak.
Jawab: Amiin.
8 Februari 2010
Dua hari yang lalu, saya mendapatkan SMS dari seorang bernama VERA di Sawahlunto, Sumatera Barat (no HP 085766041xxx). Berikut ini Tanya jawab yang terjadi:
Vera (Tanya): Apakah ini no. HP penulis DreamSMART(R)?
Yudistira (Jawab): Iya.. Ini dari Siapa? dan di mana?
Tanya: Dari Nelya Veronica, Siswi SMAN 1 Sawahlunto, Sumatera Barat.
Jawab: Adakah yang dapat saya bantu?
Tanya: Vera pengen belajar banyak ne tentang cita-cita sama kakak..
Jawab: Boleh.. Vera mau nanya apa? Mau jadi apa?
Tanya: Vera tu pengen banged jadi Guru kak.. tapi 3x dalam sehari.. Bisa gak Kak?
Jawab: Maksudnya bagaimana? Belum jelas..
Tanya: Begini.. Vera tu pengen kalau pagi ngejar di sekolah, trus siang ngajar di madrasah (MDA) n malamnya jadi guru ngaji Kak.. Gimana?
Jawab: Boleh aja kalau pandai atur waktu dan tenaga kamu. Ngajar pagi di bidang apa?
Tanya: Pengennya sih di bidang umum aja Kak. Gak terfokus ke satu bidang aja.
Jawab: Maksudnya sekarang ini atau setelah lulus SMA? Atau, setelah lulus kuliah?
Tanya: Setelah lulus SMA kalau dapat Kak.
Jawab: Oh begitu... Kalau jadi guru, resminya harus sarjana. Kamu suka pelajaran apa? Hobimu apa?
Tanya: Agama sama Sosiologi Kak. Kalau hobi Vera baca Al-Qur'an sama nyanyi Kak..
Jawab: Kalau begitu pilihlah satu bidang untuk kuliah nanti.
Tanya: Kalau saya pilih bidang agama, gimana menurut Kakak?
Jawab: Bagus. Berarti baiknya masuk UIN, Universitas Islam Negeri (dulu IAIN).
Tanya: Oke.thanks ya Kak..atas masukannya.. Kapan-kapan kita sambung lagi yan Kak..
Jawab: Iya.. sama-sama. Sukses ya.
Tanya: iya Kak.. doain Vera ya Kak.
Jawab: Amiin.
Selasa, 02 Februari 2010
ARTIS: Camera Face, Fotojenik, Unikjenik
by Yudistira S.A. Soedarsono
3 February 2010
Bagi anda yang menggemari "tabung kaca" yang kian lama kian berubah menjadi "tabung" tipis, anda pasti mengamati perkembangan ARTIS-ARTIS baru yang menghibur anda sepanjang waktu. Baik itu pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari atau sampai besok pagi lagi.
Dulu, di tahun 1979-an, untuk dapat menjadi seorang fotomodel atau bintang film layar lebar, disyaratkan untuk mempunyai wajah dan bodi yang FOTOJENIK. Bagi yang tidak mempunyai syarat-syarat itu, sungguh sangat sulit untuk dapat menjadi seorang ARTIS.
Kini, dunia mulai bergeser. Permintaan dan daya terima masyarakat juga bergeser. Istilah yang dipakai bukan hanya FOTOJENIK, tapi juga CAMERA FACE dan yang paling akhir tapi dapat diterima adalah UNIKJENIK.
Apa itu UNIKJENIK?
Untuk menjadi artis di abad ini, juga dapat dicapai dengan cara UNIK, wajah UNIK, penampilan UNIK, cara ngomong yang UNIK, cara menyanyi yang UNIK, cara melawak yang UNIK dan segala macam yang UNIK-UNIK.
Saya akan sebutkan beberapa nama yang tidak ada potongan ganteng, tidak ada potongan bodi yang langsing, tapi mereka semua DAPAT DITERIMA oleh para penonton, dan tentunya harus dapat diterima oleh para PRODUSER yang mengorbitkan mereka.
Dalam dunia lawak, sangat banyak yang memenuhi kriteria "wajah kampung, rejeki kota." Yang masih digemari, dan masih mengibur setiap malam adalah TUKUL ARWANA. Yang sedang menanjak adalah SULE dan AZIZ GAGAP. Ada juga komedian yang berbadan tambun, seperti ADE NAMNUNG, yang agak tambun adalah PEPI, dan lawan mainnya BUDI ANDUK. Di samping itu, ada juga yang wanita yaitu JENG KELIN.
Sebagian besar dari mereka mempunyai beberapa kelebihan yang jarang ada duanya, yang mana ketika kelebihan tersebut dipadukan dalam sebuah banyolan, yang terjadi adalah suasana yang MENYEGARKAN para penonton.
Seorang TUKUL sudah banyak dibahas sehingga tidak akan dibahas di sini. Seorang SULE, adalah seorang ahli karawitan dan ahli seni Sunda. Dia pandai menyanyi gaya Sunda, menari gaya Sunda. Kadang-kadang dia mengeluarkan pantunnya. AZIZ yang tidak gagap menjadi GAGAP dan unik, walau dia akui menjadi gagap tidak mudah. Seorang PEPI ternyata bukan hanya suka membanyol, tatapi dia pandai memainkan alat musik tabuh. Saya pernah melihatnya menabuh gendang di sebuah Mal di Jakarta Selatan. JENG KELIN lain lagi. Keunikan wanita ini adalah suaranya yang CEMPRENG dan gaya jalannya yang aneh serta cara berkomunikasi yang menjengkelkan.
Mereka semua ini adalah beberapa orang yang memenuhi kriteria UNIKJENIK. Jadi tidak hanya CAMERA FACE saja, tetapi menjadi UNIK juga sangat penting.
Seorang Psikolog juga menambahkan, bahwa pada dasarnya, mereka yang UNIKJENIK ini, harus SUKSES dulu mengangkat RASA PERCAYA DIRI sedemikian rupa sehingga mereka menjadi SUKSES di dunia panggung dan layar kaca/lebar. Tanpa RASA PERCAYA DIRI yang tinggi, mereka akan selalu merasa KALAH BERSAING dengan yang CAMERA FACE.
Nah, saya dapat PASTIKAN bahwa ANDA mempunyai kriteria salah satu dari dua tadi atau dua-duanya: ANDA termasuk CAMERA FACE, atau UNIKJENIK atau kedua-duanya.
Kalau mau menjadi ARTIS, harus berani ikut AUDISI atau CASTING, anda MAU dan BERANI?
3 February 2010
Bagi anda yang menggemari "tabung kaca" yang kian lama kian berubah menjadi "tabung" tipis, anda pasti mengamati perkembangan ARTIS-ARTIS baru yang menghibur anda sepanjang waktu. Baik itu pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari atau sampai besok pagi lagi.
Dulu, di tahun 1979-an, untuk dapat menjadi seorang fotomodel atau bintang film layar lebar, disyaratkan untuk mempunyai wajah dan bodi yang FOTOJENIK. Bagi yang tidak mempunyai syarat-syarat itu, sungguh sangat sulit untuk dapat menjadi seorang ARTIS.
Kini, dunia mulai bergeser. Permintaan dan daya terima masyarakat juga bergeser. Istilah yang dipakai bukan hanya FOTOJENIK, tapi juga CAMERA FACE dan yang paling akhir tapi dapat diterima adalah UNIKJENIK.
Apa itu UNIKJENIK?
Untuk menjadi artis di abad ini, juga dapat dicapai dengan cara UNIK, wajah UNIK, penampilan UNIK, cara ngomong yang UNIK, cara menyanyi yang UNIK, cara melawak yang UNIK dan segala macam yang UNIK-UNIK.
Saya akan sebutkan beberapa nama yang tidak ada potongan ganteng, tidak ada potongan bodi yang langsing, tapi mereka semua DAPAT DITERIMA oleh para penonton, dan tentunya harus dapat diterima oleh para PRODUSER yang mengorbitkan mereka.
Dalam dunia lawak, sangat banyak yang memenuhi kriteria "wajah kampung, rejeki kota." Yang masih digemari, dan masih mengibur setiap malam adalah TUKUL ARWANA. Yang sedang menanjak adalah SULE dan AZIZ GAGAP. Ada juga komedian yang berbadan tambun, seperti ADE NAMNUNG, yang agak tambun adalah PEPI, dan lawan mainnya BUDI ANDUK. Di samping itu, ada juga yang wanita yaitu JENG KELIN.
Sebagian besar dari mereka mempunyai beberapa kelebihan yang jarang ada duanya, yang mana ketika kelebihan tersebut dipadukan dalam sebuah banyolan, yang terjadi adalah suasana yang MENYEGARKAN para penonton.
Seorang TUKUL sudah banyak dibahas sehingga tidak akan dibahas di sini. Seorang SULE, adalah seorang ahli karawitan dan ahli seni Sunda. Dia pandai menyanyi gaya Sunda, menari gaya Sunda. Kadang-kadang dia mengeluarkan pantunnya. AZIZ yang tidak gagap menjadi GAGAP dan unik, walau dia akui menjadi gagap tidak mudah. Seorang PEPI ternyata bukan hanya suka membanyol, tatapi dia pandai memainkan alat musik tabuh. Saya pernah melihatnya menabuh gendang di sebuah Mal di Jakarta Selatan. JENG KELIN lain lagi. Keunikan wanita ini adalah suaranya yang CEMPRENG dan gaya jalannya yang aneh serta cara berkomunikasi yang menjengkelkan.
Mereka semua ini adalah beberapa orang yang memenuhi kriteria UNIKJENIK. Jadi tidak hanya CAMERA FACE saja, tetapi menjadi UNIK juga sangat penting.
Seorang Psikolog juga menambahkan, bahwa pada dasarnya, mereka yang UNIKJENIK ini, harus SUKSES dulu mengangkat RASA PERCAYA DIRI sedemikian rupa sehingga mereka menjadi SUKSES di dunia panggung dan layar kaca/lebar. Tanpa RASA PERCAYA DIRI yang tinggi, mereka akan selalu merasa KALAH BERSAING dengan yang CAMERA FACE.
Nah, saya dapat PASTIKAN bahwa ANDA mempunyai kriteria salah satu dari dua tadi atau dua-duanya: ANDA termasuk CAMERA FACE, atau UNIKJENIK atau kedua-duanya.
Kalau mau menjadi ARTIS, harus berani ikut AUDISI atau CASTING, anda MAU dan BERANI?
Jumat, 22 Januari 2010
SEJARAWAN dan IQ
by Yudistira S.A. Soedarsono
22 Januari 2010
Pada bulan Januari tahun 2010 ini saya mendapat SMS dari ANA di Probolinggo. Dia menanyakan beberapa hal yang ternyata belum ada di buku DreamSMART(R) for Teens.
Ana (Tanya): Ass. Pak Yudis, Bagaimana caranya agar dapat menjadi seorang Sejarawan?
Yudistira (Jawab): Alaikum salam. Ana, untuk menjadi seorang SEJARAWAN sebaiknya dari SMU IPS, yang mencintai pelajaran Sejarah. nanti, setelah lulus melanjutkan ke FISIP atau FIB Jurusan Sejarah.
Tanya: FISIP itu di mana?
Jawab: FISIP itu singkatan dari Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik. Jurusan itu ada di beberapa universitas yang ternama, misal di UI, UGM dan di UNAIR. Namun, ada juga yang memasukkan Jurusan Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya (d/h Fak. SASTRA), silakan dicari infonya ke universitas masing-masing.
Tanya: Pak, apakah saya termasuk orang yang FOKUS jika saya berminat di bidang Sejarah dan mengidolakan: JOANNE KATHLEEN ROWLING, penulis novel Harry Potter; dan CHAIRIL ANWAR dan M.H. RUSLI yang keduanya adalah penyair dan pejuang Indonesia?
Jawab: Sebenarnya masih masuk yang FOKUS, karena menyukai perjuangan. Memang seorang SEJARAWAN akan sangat mengidolakan totok-tokoh pejuang/sejarah. Dan kalau dia mengidolakan seorang penulis, juga masih fokus, karena ujung-ujungnya seorang SEJARAWAN harus menulis tentang sejarah yang khusus, yang dia teliti dan dia minati.
Tanya: terus, saya mau tanya lagi.. Apakah kalau pintar matematika maka IQ-nya dianggap tinggi? Dan, kalau IQ-nya tinggi apakah pintar di segala bidang?
Jawab: Tes IQ adalah sangat terkait dengan pengukuran kemampuan berhitung dan berlogika. Jadi, kalau IQ-nya tinggi memang ada kaitannya dengan kemampuan matematika yang tinggi. Tetapi, IQ yang tinggi bukan berarti dia pintar di segala hal. Tes IQ tidak mengukur kemampuan bermusik, olahraga, dan kreativitas seseorang. Yang lebih penting, IQ tidak mengukur kematangan emosi, ketekunan, adaptasi dan spiritualitas seseorang. Padahal 4 hal terakhir ini adalah yang paling menentukan KESUKSESAN.
Tanya: Pak, apakah SEJARAWAN hanya bekerja di MUSEUM?
Jawab: Tidak juga. Yang lebih punya prospek bagus adalah kalau kamu jadi dosen, lalu kuliah Master dan Doktor untuk bidang Sejarah, lalu suatu hari kamu akan menjadi seorang narasumber di TV atau seminar-seminar dalam bidang yang kamu teliti dan kamu bukukan. Jadi, sambil jadi narasumber, kamu tetap jadi dosen.
22 Januari 2010
Pada bulan Januari tahun 2010 ini saya mendapat SMS dari ANA di Probolinggo. Dia menanyakan beberapa hal yang ternyata belum ada di buku DreamSMART(R) for Teens.
Ana (Tanya): Ass. Pak Yudis, Bagaimana caranya agar dapat menjadi seorang Sejarawan?
Yudistira (Jawab): Alaikum salam. Ana, untuk menjadi seorang SEJARAWAN sebaiknya dari SMU IPS, yang mencintai pelajaran Sejarah. nanti, setelah lulus melanjutkan ke FISIP atau FIB Jurusan Sejarah.
Tanya: FISIP itu di mana?
Jawab: FISIP itu singkatan dari Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik. Jurusan itu ada di beberapa universitas yang ternama, misal di UI, UGM dan di UNAIR. Namun, ada juga yang memasukkan Jurusan Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya (d/h Fak. SASTRA), silakan dicari infonya ke universitas masing-masing.
Tanya: Pak, apakah saya termasuk orang yang FOKUS jika saya berminat di bidang Sejarah dan mengidolakan: JOANNE KATHLEEN ROWLING, penulis novel Harry Potter; dan CHAIRIL ANWAR dan M.H. RUSLI yang keduanya adalah penyair dan pejuang Indonesia?
Jawab: Sebenarnya masih masuk yang FOKUS, karena menyukai perjuangan. Memang seorang SEJARAWAN akan sangat mengidolakan totok-tokoh pejuang/sejarah. Dan kalau dia mengidolakan seorang penulis, juga masih fokus, karena ujung-ujungnya seorang SEJARAWAN harus menulis tentang sejarah yang khusus, yang dia teliti dan dia minati.
Tanya: terus, saya mau tanya lagi.. Apakah kalau pintar matematika maka IQ-nya dianggap tinggi? Dan, kalau IQ-nya tinggi apakah pintar di segala bidang?
Jawab: Tes IQ adalah sangat terkait dengan pengukuran kemampuan berhitung dan berlogika. Jadi, kalau IQ-nya tinggi memang ada kaitannya dengan kemampuan matematika yang tinggi. Tetapi, IQ yang tinggi bukan berarti dia pintar di segala hal. Tes IQ tidak mengukur kemampuan bermusik, olahraga, dan kreativitas seseorang. Yang lebih penting, IQ tidak mengukur kematangan emosi, ketekunan, adaptasi dan spiritualitas seseorang. Padahal 4 hal terakhir ini adalah yang paling menentukan KESUKSESAN.
Tanya: Pak, apakah SEJARAWAN hanya bekerja di MUSEUM?
Jawab: Tidak juga. Yang lebih punya prospek bagus adalah kalau kamu jadi dosen, lalu kuliah Master dan Doktor untuk bidang Sejarah, lalu suatu hari kamu akan menjadi seorang narasumber di TV atau seminar-seminar dalam bidang yang kamu teliti dan kamu bukukan. Jadi, sambil jadi narasumber, kamu tetap jadi dosen.
Jumat, 16 Oktober 2009
Jadi HAKIM Seperti BISMAR SIREGAR SH.
By Y.S. Aji Soedarsono
16 Oktober 2009
Pada hari Minggu tanggal 11 Oktober 2009 adalah salah satu hari yang sangat berkesan dalam hidup saya. Pada hari itu saya berkesempatan bertemu muka dan berjabatan tangan dengan seorang yang sangat hebat. Yang lebih dalam lagi, pada kesempatan itu, saya mendapatkan curahan semangat untuk tetap kukuh dalam bertindak lurus dalam hidup ini.
Sore itu, saya diundang oleh seorang teman untuk hadir dalam acara bedah buku yang dikarang oleh seorang mantan Hakim Agung Indonesia. Teman saya ini menjadi anggota panitia acara tersebut. Pengarang buku ini adalah BISMAR SIREGAR SH. Bukunya berjudul “Islam Akhlak Mulia, Renungan-renungan di Tengah Malam Sunyi.” Bismar pernah menjadi Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dan Utara, dan pada saat menjelang pensiun, dia adalah seorang Hakim Agung di Mahkamah Agung RI.
Dalam uraian singkatnya, dia menjelaskan bahwa dulu ketika memutuskan menjadi hakim dan bukan menjadi jaksa, adalah karena menjadi hakim lebih independent. Seorang hakim tidak harus melapor dulu kepada atasan ketika akan memutuskan suatu perkara. Dengan ternyata pilihannya tepat. Dengan demikian dia mempunyai ruang yang sangat luas untuk bertindak adil dalam setiap keputusan yang diambilnya.
Dari dulu hingga kini, menjadi hakim tidak pernah kecil tantangannya. Namun ada perbedaan besar antara zaman dulu dengan zaman sekarang. Dulu, sangat sulit menentukan di antara 10 orang hakim, siapa yang tidak jujur. Zaman sekarang adalah sebaliknya.
Ketika kini tidak lagi menjabat, dia lebih suka menjadi penulis. Ketika buku “Islam Akhlak Mulia” selesai dan sebagian akan dibagikan secara gratis kepada beberapa orang, komentar istrinya adalah: “Miskinlah kau nanti.”
Bismar menjawab:”Tidak. Ini adalah depositoku untuk hidupku di akhirat nanti.”
Dalam bedah buku tersebut, diungkapkannya bahwa menjadi hakim tidak melulu sekadar merujuk kepada Undang-Undang yang tertulis. Dalam beberapa kasus, dia mengambil keputusan berdasarkan kepada hakikat dari suatu permasalahan walaupun mungkin tidak cocok atau tidak ada pada pasal-pasal dalam Undang-Undang. Hal itu diakui oleh anak-muridnya yang hadir pula dalam acara bedah buku tersebut.
Pada kesempatan bedah buku tersebut, peserta bedah buku memang mendapatkan buku tersebut secara gratis, termasuk saya. Ketika acara bedah telah selesai, secara spontan, beberapa orang, termasuk saya, mengantri untuk mendapatkan tandatangannya pada buku gratis yang kami dapatkan.
Pada giliran saya, beliau menanyakan nama saya. Saya menjawab seraya menambahkan: ”…Pak, saya juga menulis sebuah buku kecil tentang cita-cita, yang pada bagian penutupnya saya menuliskan pesan agar para remaja tidak bercita-cita menjadi seorang koruptor. Apabila bapak berkenan, saya akan ambilkan untuk bapak.”
Dia mengangguk. Saya segera mengambil buku “DreamSMART® for Teens” dari tas saya. Dia meminta saya membubuhkan tandatangan saya di buku yang akan saya berikan kepadanya, sementara dia membubuhkan tandatangan di buku yang dibagikan secara gratis kepada saya.
Akhirnya, kami saling bertukar buku. Kami saling bersalaman disaksikan oleh beberapa orang yang mengantri di belakang saya. Terimakasih Pak Bismar Siregar, semoga di Indonesia ada banyak lagi hakim yang seperti anda. Amiin.
16 Oktober 2009
Pada hari Minggu tanggal 11 Oktober 2009 adalah salah satu hari yang sangat berkesan dalam hidup saya. Pada hari itu saya berkesempatan bertemu muka dan berjabatan tangan dengan seorang yang sangat hebat. Yang lebih dalam lagi, pada kesempatan itu, saya mendapatkan curahan semangat untuk tetap kukuh dalam bertindak lurus dalam hidup ini.
Sore itu, saya diundang oleh seorang teman untuk hadir dalam acara bedah buku yang dikarang oleh seorang mantan Hakim Agung Indonesia. Teman saya ini menjadi anggota panitia acara tersebut. Pengarang buku ini adalah BISMAR SIREGAR SH. Bukunya berjudul “Islam Akhlak Mulia, Renungan-renungan di Tengah Malam Sunyi.” Bismar pernah menjadi Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dan Utara, dan pada saat menjelang pensiun, dia adalah seorang Hakim Agung di Mahkamah Agung RI.
Dalam uraian singkatnya, dia menjelaskan bahwa dulu ketika memutuskan menjadi hakim dan bukan menjadi jaksa, adalah karena menjadi hakim lebih independent. Seorang hakim tidak harus melapor dulu kepada atasan ketika akan memutuskan suatu perkara. Dengan ternyata pilihannya tepat. Dengan demikian dia mempunyai ruang yang sangat luas untuk bertindak adil dalam setiap keputusan yang diambilnya.
Dari dulu hingga kini, menjadi hakim tidak pernah kecil tantangannya. Namun ada perbedaan besar antara zaman dulu dengan zaman sekarang. Dulu, sangat sulit menentukan di antara 10 orang hakim, siapa yang tidak jujur. Zaman sekarang adalah sebaliknya.
Ketika kini tidak lagi menjabat, dia lebih suka menjadi penulis. Ketika buku “Islam Akhlak Mulia” selesai dan sebagian akan dibagikan secara gratis kepada beberapa orang, komentar istrinya adalah: “Miskinlah kau nanti.”
Bismar menjawab:”Tidak. Ini adalah depositoku untuk hidupku di akhirat nanti.”
Dalam bedah buku tersebut, diungkapkannya bahwa menjadi hakim tidak melulu sekadar merujuk kepada Undang-Undang yang tertulis. Dalam beberapa kasus, dia mengambil keputusan berdasarkan kepada hakikat dari suatu permasalahan walaupun mungkin tidak cocok atau tidak ada pada pasal-pasal dalam Undang-Undang. Hal itu diakui oleh anak-muridnya yang hadir pula dalam acara bedah buku tersebut.
Pada kesempatan bedah buku tersebut, peserta bedah buku memang mendapatkan buku tersebut secara gratis, termasuk saya. Ketika acara bedah telah selesai, secara spontan, beberapa orang, termasuk saya, mengantri untuk mendapatkan tandatangannya pada buku gratis yang kami dapatkan.
Pada giliran saya, beliau menanyakan nama saya. Saya menjawab seraya menambahkan: ”…Pak, saya juga menulis sebuah buku kecil tentang cita-cita, yang pada bagian penutupnya saya menuliskan pesan agar para remaja tidak bercita-cita menjadi seorang koruptor. Apabila bapak berkenan, saya akan ambilkan untuk bapak.”
Dia mengangguk. Saya segera mengambil buku “DreamSMART® for Teens” dari tas saya. Dia meminta saya membubuhkan tandatangan saya di buku yang akan saya berikan kepadanya, sementara dia membubuhkan tandatangan di buku yang dibagikan secara gratis kepada saya.
Akhirnya, kami saling bertukar buku. Kami saling bersalaman disaksikan oleh beberapa orang yang mengantri di belakang saya. Terimakasih Pak Bismar Siregar, semoga di Indonesia ada banyak lagi hakim yang seperti anda. Amiin.
Rabu, 22 Juli 2009
Cita-Cita: PSIKOLOG HEBAT Seperti Profesor FUAD HASAN
by Y.S. Aji Soedarsono
Rabu, 22 Juli 2009
Saya mempunyai beberapa orang teman dan sahabat yang menyandang predikat sebagai PSIKOLOG. Bahkan ada beberapa anak muda yang belum lama ini lulus Sarjana Psikologi dan ada seorang mahasiswa yang luarbiasa, yang multi-talented yang kini kuliah di Fakultas Psikologi UI. Walaupun kini, untuk menyandang predikat Psikolog Profesional diharuskan untuk mengambil program Master/Magister, saya tetap saja menganggap teman-teman saya tersebut sebagai Psikolog yang profesional.
Apa yang membuat mereka ini memilih ilmu psikologi sebagai jalur untuk membuka karir?
Beberapa waktu yang lalu, saya berjumpa dengan salah seorang teman saya tersebut. Dia adalah teman saya dari SMP lalu SMA. Setelah lulus SMA, terus terang saya kehilangan jejak. Jadi saat berjumpa beberapa waktu lalu, saya baru tahu bahwa dia adalah seorang psikolog. Ternyata, dia sekarang menjadi seorang dosen di sebuah universitas swasta di Jakarta.
Dalam percakapan kami, sempat terungkap bahwa sebagian (besar?) mahasiswa di tempat dia mengajar, memilih fakultas psikologi karena para mahasiswa itu mempunyai masalah pribadi yang tidak mudah diselesaikan. Oleh karena itu, "sambil" kuliah, mereka berharap dapat memahami permasalahan masng-masing, dan berharap ada dosen yang dengan cuma-cuma memberikan solusi bagi permasalah yang dihadapi.
Apakah semua mahasiswa Psikologi masuk ke sana dengan alasan seperti di atas? Saya YAKIN tidak semua begitu. Pasti ada mahasiswa yang sudah sejak remaja bahkan sejak kecil ingin menjadi psikolog.
Seorang teman yang saat tulisan ini dibuat sedang kuliah di Fakultas Psikologi UI, mempunyai alasan masuk ke sana untuk menjadi seorang Psikolog yang dapat membantu orang lain yang mempunyai masalah kejiwaan, tanpa memberikan harus obat (pil). Berbeda dengan Psikiater, yang kadang harus menulis resep untuk sang pasien yang mempunyai gangguan kejiwaan. Menurutnya, "mengobati" tanpa obat lebih KEREN!
Beberapa hari yang lalu, dalam siaran TVRI, terdapat acara talkshow yang menampilkan dua orang Psikolog senior Indonesia, Prof. ENOCH MARKUM dan JA. RUMESER, MPSi. Karena dalam acara langsung itu dibolehkan untuk berinteraksi, saya menelepon untuk mengobati rasa penasaran saya tentang satu hal dalam bidang Psikologi di Indonesia.
Saat saya dipersilakan bertanya, segera saya bertanya kepada Prof. ENOCH MARKUM:
"Selamat siang Pak. Saya ingin bertanya kepada Pak Enoch Markum. Pertanyaan saya: Kalau dalam ilmu Sosiologi di Indonesia, sudah ada beberapa Sosiolog Indonesia yang beberapa teorinya dicuplik dan disejajarkan dengan beberapa teori dari luar negeri, bagaimana dengan Psikolog Indonesia? Siapakah Psikolog Indonesia dan apa teorinya yang dapat kita sejajarkan dengan teori dari luar?"
Profesor Enoch Markum menjelaskan bahwa di Fakultas Psikologi UI, sekarang ini sedang dikembangkan yang namanya PSIKOLOGI ULAYAT (Indigenous Psychology), yaitu psikologi yang berdasarkan kepada beberapa Etnis yang begitu beragam dari Indonesia. Sedangkan, tambahan dari Pak Rumeser, bahwa ada seorang Psikolog hebat dari Indonesia, yang teorinya patut diangkat dan disejajarkan dengan teori dari luar negeri. Hal itu dapat terjadi karena "orang ini" sangat JELI dan tanggap terhadap situasi psikologi di Indonesia. "Orang ini" adalah Profesor FUAD HASAN. Dia telah menemukan teori Psikologi "KAMI dan KITA."
Seperti kita ketahui bersama, memang dalam bahasa Indonesia sehari-hari dikenal istilah KAMI dan KITA, yang jika diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi WE saja. Hal ini berarti ada perbedaan signifikan dalam hal kejiwaan orang Indonesia dalam memandang dirinya sendiri dan kawan bicaranya (lawan bicaranya). KAMI dapat berarti saya dan beberapa orang lain, tapi tidak termasuk ANDA. Sedangkan KITA dapat berarti Saya dan beberapa orang lain termasuk ANDA! Jadi, memang, ternyata Indonesia mempunyai seorang PSIKOLOG HEBAT, yang dapat disejajarkan teorinya dengan Psikolog dari luar negeri.
Jawaban di atas sangat melegakan dan MEMBANGGAKAN.
Nah pembaca yang budiman, anda semakin BERMINAT?
Rabu, 22 Juli 2009
Saya mempunyai beberapa orang teman dan sahabat yang menyandang predikat sebagai PSIKOLOG. Bahkan ada beberapa anak muda yang belum lama ini lulus Sarjana Psikologi dan ada seorang mahasiswa yang luarbiasa, yang multi-talented yang kini kuliah di Fakultas Psikologi UI. Walaupun kini, untuk menyandang predikat Psikolog Profesional diharuskan untuk mengambil program Master/Magister, saya tetap saja menganggap teman-teman saya tersebut sebagai Psikolog yang profesional.
Apa yang membuat mereka ini memilih ilmu psikologi sebagai jalur untuk membuka karir?
Beberapa waktu yang lalu, saya berjumpa dengan salah seorang teman saya tersebut. Dia adalah teman saya dari SMP lalu SMA. Setelah lulus SMA, terus terang saya kehilangan jejak. Jadi saat berjumpa beberapa waktu lalu, saya baru tahu bahwa dia adalah seorang psikolog. Ternyata, dia sekarang menjadi seorang dosen di sebuah universitas swasta di Jakarta.
Dalam percakapan kami, sempat terungkap bahwa sebagian (besar?) mahasiswa di tempat dia mengajar, memilih fakultas psikologi karena para mahasiswa itu mempunyai masalah pribadi yang tidak mudah diselesaikan. Oleh karena itu, "sambil" kuliah, mereka berharap dapat memahami permasalahan masng-masing, dan berharap ada dosen yang dengan cuma-cuma memberikan solusi bagi permasalah yang dihadapi.
Apakah semua mahasiswa Psikologi masuk ke sana dengan alasan seperti di atas? Saya YAKIN tidak semua begitu. Pasti ada mahasiswa yang sudah sejak remaja bahkan sejak kecil ingin menjadi psikolog.
Seorang teman yang saat tulisan ini dibuat sedang kuliah di Fakultas Psikologi UI, mempunyai alasan masuk ke sana untuk menjadi seorang Psikolog yang dapat membantu orang lain yang mempunyai masalah kejiwaan, tanpa memberikan harus obat (pil). Berbeda dengan Psikiater, yang kadang harus menulis resep untuk sang pasien yang mempunyai gangguan kejiwaan. Menurutnya, "mengobati" tanpa obat lebih KEREN!
Beberapa hari yang lalu, dalam siaran TVRI, terdapat acara talkshow yang menampilkan dua orang Psikolog senior Indonesia, Prof. ENOCH MARKUM dan JA. RUMESER, MPSi. Karena dalam acara langsung itu dibolehkan untuk berinteraksi, saya menelepon untuk mengobati rasa penasaran saya tentang satu hal dalam bidang Psikologi di Indonesia.
Saat saya dipersilakan bertanya, segera saya bertanya kepada Prof. ENOCH MARKUM:
"Selamat siang Pak. Saya ingin bertanya kepada Pak Enoch Markum. Pertanyaan saya: Kalau dalam ilmu Sosiologi di Indonesia, sudah ada beberapa Sosiolog Indonesia yang beberapa teorinya dicuplik dan disejajarkan dengan beberapa teori dari luar negeri, bagaimana dengan Psikolog Indonesia? Siapakah Psikolog Indonesia dan apa teorinya yang dapat kita sejajarkan dengan teori dari luar?"
Profesor Enoch Markum menjelaskan bahwa di Fakultas Psikologi UI, sekarang ini sedang dikembangkan yang namanya PSIKOLOGI ULAYAT (Indigenous Psychology), yaitu psikologi yang berdasarkan kepada beberapa Etnis yang begitu beragam dari Indonesia. Sedangkan, tambahan dari Pak Rumeser, bahwa ada seorang Psikolog hebat dari Indonesia, yang teorinya patut diangkat dan disejajarkan dengan teori dari luar negeri. Hal itu dapat terjadi karena "orang ini" sangat JELI dan tanggap terhadap situasi psikologi di Indonesia. "Orang ini" adalah Profesor FUAD HASAN. Dia telah menemukan teori Psikologi "KAMI dan KITA."
Seperti kita ketahui bersama, memang dalam bahasa Indonesia sehari-hari dikenal istilah KAMI dan KITA, yang jika diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi WE saja. Hal ini berarti ada perbedaan signifikan dalam hal kejiwaan orang Indonesia dalam memandang dirinya sendiri dan kawan bicaranya (lawan bicaranya). KAMI dapat berarti saya dan beberapa orang lain, tapi tidak termasuk ANDA. Sedangkan KITA dapat berarti Saya dan beberapa orang lain termasuk ANDA! Jadi, memang, ternyata Indonesia mempunyai seorang PSIKOLOG HEBAT, yang dapat disejajarkan teorinya dengan Psikolog dari luar negeri.
Jawaban di atas sangat melegakan dan MEMBANGGAKAN.
Nah pembaca yang budiman, anda semakin BERMINAT?
Jumat, 29 Mei 2009
Cita-Cita: KULIAH Apa Aja Deh...
by Y.S. Aji Soedarsono
29 May 2009
Beberapa minggu yang lalu, seorang bapak dari 3 orang remaja menuturkan kepada saya bahwa dengan situasi dan kondisi dunia pendidikan di Indoneisa seperti sekarang ini, dia mencoba realistis dengan apa yang dihadapi oleh 3 anaknya. Dia tidak ingin memaksakan berapa nilai yang harus dicapai oleh mereka. Dia tidak ingin memaksakan jurusan IPS atau IPA bagi anak-anaknya. Bahkan lebih dari itu, dia mengijinkan anak-anaknya saat lulus SMA untuk kuliah apa saja, yang penting kuliah.
Mengapa dia mengatakan seperti itu?
Apakah banyak orangtua yang bersikap seperti itu?
Lalu, bagaimana dengan cita-cita anak-anak mereka?
Tapi, itu belum selesai. Dia menambahkan bahwa nanti setelah lulus sarjana di Indonesia, dia akan mengirimkan anak-anak mereka untuk kuliah di LUAR NEGERI. Hal itu dia wajibkan untuk "menutupi" kekurangan selama kuliah di dalam negeri. Jadi, bagaimanapun dia menganggap bahwa kuliah di dalam negeri adalah belum cukup.
Sehingga, pada akhirnya, ijazah yang terakhir, yang dari luar negeri itulah yang akan dipakai untuk "mencari kerja" di dalam negeri atau luar negeri. Walaupun situasi global sekarang ini "sangat menantang," diharapkan 5 hingga 10 tahun mendatang situasi global sudah pulih kembali.
Bagaimana dengan cita-cita anaknya?
Tentunya dia ingin kuliah "apa saja" di Indonesia adalah yang sesuai dengan cita-cia anaknya, jika sudah punya. Jika anaknya belum punya cita-cita, nanti dia dan sang istri akan menyarankan kuliah apa yang mungkin murah dan mudah untuk lulus.
Ada berapa banyakkah orang tua yang seperti bapak itu?
Pastinya hanya Tuhan yang tahu. Mungkin ini adalah sebagian dari respons para orang tua terhadap situasi dunia pendidikan di Indonesia.
Apakah anak-anak mereka akan lulus dengan mudah di kampus "apa saja" ini? Rasanya tidak. Karena, belum tentu mereka menyukai bidang yang disodorkan oleh para orang tua. Atau, mereka tidak bersemangat karena bidang itu memang bukan bidang yang mereka jadikan cita-cita.
Jadi bagaimana sebaiknya?
Menurut hemat saya, sebaiknya, sebagai titik tolak untuk memilih kuliah adalah Cita-cita si remaja. Bagaimanapun, remaja dan orang tua harus berdiskusi dengan intensif tentang apa yang diinginkan anak (baca: cita-cita), bakat anak dan seberapa mampu para orang tua untuk membiayai perkuliahan. Jika ternyata tidak mampu, sebaiknya mereka menyarankan untuk mencari beasiswa, atau menyarankan untuk bekerja dulu sambil menabung. Untuk mendapatkan beasiswa itu berarti mereka harus mempunyai nilai yang bagus. Nilai yang bagus dapat dicapai jika anak memang berbakat dan mau, atau SEDIKIT berbakat tapi MAU berusaha SANGAT KERAS untuk belajar.
29 May 2009
Beberapa minggu yang lalu, seorang bapak dari 3 orang remaja menuturkan kepada saya bahwa dengan situasi dan kondisi dunia pendidikan di Indoneisa seperti sekarang ini, dia mencoba realistis dengan apa yang dihadapi oleh 3 anaknya. Dia tidak ingin memaksakan berapa nilai yang harus dicapai oleh mereka. Dia tidak ingin memaksakan jurusan IPS atau IPA bagi anak-anaknya. Bahkan lebih dari itu, dia mengijinkan anak-anaknya saat lulus SMA untuk kuliah apa saja, yang penting kuliah.
Mengapa dia mengatakan seperti itu?
Apakah banyak orangtua yang bersikap seperti itu?
Lalu, bagaimana dengan cita-cita anak-anak mereka?
Tapi, itu belum selesai. Dia menambahkan bahwa nanti setelah lulus sarjana di Indonesia, dia akan mengirimkan anak-anak mereka untuk kuliah di LUAR NEGERI. Hal itu dia wajibkan untuk "menutupi" kekurangan selama kuliah di dalam negeri. Jadi, bagaimanapun dia menganggap bahwa kuliah di dalam negeri adalah belum cukup.
Sehingga, pada akhirnya, ijazah yang terakhir, yang dari luar negeri itulah yang akan dipakai untuk "mencari kerja" di dalam negeri atau luar negeri. Walaupun situasi global sekarang ini "sangat menantang," diharapkan 5 hingga 10 tahun mendatang situasi global sudah pulih kembali.
Bagaimana dengan cita-cita anaknya?
Tentunya dia ingin kuliah "apa saja" di Indonesia adalah yang sesuai dengan cita-cia anaknya, jika sudah punya. Jika anaknya belum punya cita-cita, nanti dia dan sang istri akan menyarankan kuliah apa yang mungkin murah dan mudah untuk lulus.
Ada berapa banyakkah orang tua yang seperti bapak itu?
Pastinya hanya Tuhan yang tahu. Mungkin ini adalah sebagian dari respons para orang tua terhadap situasi dunia pendidikan di Indonesia.
Apakah anak-anak mereka akan lulus dengan mudah di kampus "apa saja" ini? Rasanya tidak. Karena, belum tentu mereka menyukai bidang yang disodorkan oleh para orang tua. Atau, mereka tidak bersemangat karena bidang itu memang bukan bidang yang mereka jadikan cita-cita.
Jadi bagaimana sebaiknya?
Menurut hemat saya, sebaiknya, sebagai titik tolak untuk memilih kuliah adalah Cita-cita si remaja. Bagaimanapun, remaja dan orang tua harus berdiskusi dengan intensif tentang apa yang diinginkan anak (baca: cita-cita), bakat anak dan seberapa mampu para orang tua untuk membiayai perkuliahan. Jika ternyata tidak mampu, sebaiknya mereka menyarankan untuk mencari beasiswa, atau menyarankan untuk bekerja dulu sambil menabung. Untuk mendapatkan beasiswa itu berarti mereka harus mempunyai nilai yang bagus. Nilai yang bagus dapat dicapai jika anak memang berbakat dan mau, atau SEDIKIT berbakat tapi MAU berusaha SANGAT KERAS untuk belajar.
Langganan:
Postingan (Atom)